Makanan dan Minuman
MSG (MONOSODIUM GLUTAMAT)

Pertanyaan :

Apakah MSG aman dikonsumsi?

Jawaban :

  • MSG (monosodium glutamat) dihasilkan melalui proses fermentasi alami yang menggunakan molasses (hasil sampingan penggilingan gula) dari gula tebu atau gula bit seperti gula jagung dan gula tepung, dan MSG juga terdapat dalam ASI.                               
  • Glutamat dimetabolisme oleh tubuh anak-anak seperti halnya juga pada orang dewasa dan MSG aman untuk anak-anak. ASI mengandung glutamat 10 kali lebih banyak dari susu sapi.
  • Para peneliti telah membuktikan bahwa MSG aman bagi manusia. Pernyataan ini dikemukakan oleh:
  • National Academy of Science (NAS) dan National Research Council (NRC) di Amerika Serikat, Tahun 1979
  • Joint WHO/FAO Expert Committee on Food Additives (JECFA) dari PBB, Tahun 1970, 1973 dan 1988
  • Federation of American Societies for Experimental Biology (FASEB) di Amerika Serikat, Tahun 1995.
  • FDA (1995) sebagai GRAS (Generally Recognized as Safe)
  • National Academy of Sciences (1979)
  • European Community’s Scientific for Food (1991)
  • American Medical Assosiation (1992)
  • FDA: Reaffirms MSG safety based upon a report from the Federation of American Sociaties for Experimental Biology (1995).
  • Masyarakat Eropa pada Juni 1991 yang menyebutkan MSG aman bagi manusia dan tidak ditemukan bukti toksis yang disebabkan penggunaan MSG. Mereka menyatakan bahwa studi toksisitas, akut dan kronik, pada tikus dan anjing tidak memperlihatkan efek toksik yang spesifik
  • Perkumpulan dokter di Amerika serikat (AMA) yang beranggotakan lebih dari 270 ribu orang pada Juni 1992 mengeluarkan resolusi yang mendukung keamanan MSG untuk dikonsumsi sebagai penyedap makanan
  • MSG merupakan salah satu BTP yang sudah dikaji keamanannya oleh badan pengkajian Internasional dibawah WHO, yaitu The Joint FAO/WHO Expert Committee on Food Additives (JECFA) dan telah ditetapkan nilai ADI MSG adalah tidak dinyatakan (not specified).
  • Kelompok BTP yang memiliki nilai ADI not specified, menunjukkan bahwa BTP tersebut digolongkan pada BTP yang toksisitasnya sangat rendah berdasarkan data kimia, biokimia, toksikologi dan data lainnya. Jumlah asupan BTP tersebut menurut WHO tidak menimbulkan bahaya terhadap kesehatan
  • Hanya sedikit orang yang dilaporkan sensitif terhadap MSG, kajian ilmiah juga tidak menunjukkan hubungan langsung antara MSG dengan reaksi efek samping dilaporkan bahwa MSG diduga menjadi penyebab “ Chinese restaurant syndrome” karena mengkonsumsi masakan Cina dan MSG yang banyak digunakan pada masakan Asia. Gejala yang timbul antara lain rasa terbakar di belakang leher, dada sesak, mual dan berkeringat. Namun, hasil pemeriksaan double-blind pada penderita sindrom tersebut tidak berhasil memastikan MSG sebagai penyebab. Pengamatan lain menunjukkan bahwa reaksi alergi setelah makan masakan Asia lebih disebabkan karena komponen masakan tersebut seperti udang, kacang, bumbu dan rempah.
  • Dalam standar Internasional (Codex stan 192-1995 Rev.16 Tahun 2015), batas maksimum penggunaan MSG ditetapkan GMP (jumlah secukupnya sesuai dengan keperluan untuk menghasilkan efek yang diinginkan).
  • Peraturan Menteri Kesehatan nomor 033 Tahun 2012 tentang Bahan Tambahan Pangan menggolongkan MSG sebagai BTP penguat rasa.
  • Dengan demikian, adanya Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 033 Tahun 2012 tentang BTP tersebut dapat memberikan panduan penggunaan MSG sebagai BTP penguat rasa yang aman di Indonesia.