Infodemik: Bahaya Isu Obat dan Makanan di Tengah Pandemi, Saring sebelum Sharing!


18 Des 2020 232

Jakarta – Di tengah pandemi COVID-19, masyarakat dihadapkan pada bahaya “pandemi informasi” yang kurang tepat atau dikenal dengan istilah infodemik. Infodemik telah menjadi isu global. Informasi yang berlebihan menyebabkan sulit membedakan isu yang benar dan isu yang salah. Hal ini menyebabkan terjadinya bias informasi yang merugikan upaya percepatan penanganan COVID-19.

Jumat (18/12) Badan POM menyelenggarakan talkshow “Infodemik: Bahaya Isu Obat dan Makanan di Tengah Pandemi” yang dibuka langsung oleh Kepala Badan POM RI, Penny K. Lukito. Talkshow yang dilaksanakan secara luring dan ditayangkan secara live di akun Youtube Badan POM ini diikuti generasi muda kalangan pelajar, mahasiswa, pemuda pemudi Indonesia, perwakilan organisasi masyarakat/profesi, perwakilan kader Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK), serta jajaran pegawai Badan POM baik pusat, Balai Besar/Balai POM dan Loka POM di seluruh Indonesia.

Hadir sebagai narasumber dalam talkshow yang dipandu oleh Shafira Umm ini adalah Sekretaris Utama Badan POM RI Elin Herlina, Plt. Deputi Bidang Pengawasan Obat, Narkotika, Psikotropika, Prekursor dan Zat Adiktif Togi Junice Hutadjulu, Deputi Bidang Pengawasan Obat Tradisional, Suplemen Kesehatan dan Kosmetik Reri Indriani, Perwakilan Ditjen Informasi Dan Komunikasi Publik Septri, serta public figure Melaney Ricardo.

Dalam sambutannya, Kepala Badan POM menjelaskan bahwa fenomena infodemik beredar secara cepat dan masif di ruang digital dan media sosial berupa berita/informasi yang tidak dapat ditelusuri kebenarannya hingga berkembang menjadi hoaks. Saat ini, informasi yang mendominasi adalah isu terkait obat dan vaksin, obat tradisional, dan suplemen kesehatan penangkal COVID-19.

Infodemik semakin berbahaya di tengah akses internet dan sosial media yang semakin mudah diakses, namun tidak diiringi dengan analisis kritis terhadap suatu isu. Berdasarkan Laporan We Are Social “Global Digital Report 2020”, Indonesia termasuk 10 negara paling lama mengakses internet dan adiktif media sosial. Di Indonesia terdapat 175,5 juta pengguna internet dan lama akses internet per hari sekitar 8 jam. Di sisi lain, menurut Kementerian Komunikasi dan Informatika, sekitar 80 berita palsu tentang COVID-19 terus beredar di masyarakat setiap minggunya.

“Penanggulangan aspek negatif dari infodemik memerlukan upaya sinergis lintas sektor,” ungkap Kepala Badan POM. “Salah satunya Kementerian Komunikasi dan Informatika yang telah intensif melakukan take down terhadap unggahan yang mengandung hoaks seputar COVID-19. Badan POM terus mengintensifkan Patroli Siber terkait hoaks dan disinformasi obat dan makanan. Hingga November 2020, tercatat sebanyak 47.000 tautan yang teridentifikasi mengiklankan penjualan produk obat, obat tradisional, suplemen kesehatan dengan klaim berlebihan terkait COVID-19,” ungkapnya. Sebagai tindak lanjut, Badan POM bekerja sama dengan Kementerian Komunikasi dan Informatika, iDEA, dan platform e-commerce melakukan take down tautan tersebut.

Talkshow ini merupakan salah satu upaya dalam meningkatkan literasi digital masyarakat terkait informasi dan klarifikasi berbagai isu obat dan makanan, termasuk cara mengidentifikasi kebenaran isu serta memilih obat dan makanan aman di masa pandemi COVID-19. Serta meningkatkan literasi masyarakat pada informasi yang tepat dan benar adalah upaya yang perlu kita intensifkan dalam memerangi hoaks dan disinformasi.

“Bersama kita berperan aktif dalam membangun awareness, memerangi hoaks, serta meningkatkan kemampuan bijak informasi, selalu berpikir kritis dengan mencari informasi lebih jauh, berpikir apa akibat jika informasi beredar, serta menimbang baik buruknya untuk kepentingan bersama sebelum sharing informasi tersebut,” tegas Kepala Badan POM.

Selaras dengan Kepala Badan POM, Melaney Ricardo yang juga hadir sebagai narasumber mengajak masyarakat agar lebih teliti “Jika mendapatkan sebuah informasi, segera cek kebenarannya terlebih dahulu sebelum menyebarkan informasi tersebut. Karena apapun yang public figure sharing akan berdampak kepada masyarakat luas.” tutupnya (HM-Riska)

Bagikan
Whatsapp