Mandiri Melindungi Diri dari Obat dan Makanan yang Berisiko terhadap Kesehatan


16 Okt 2021 50

"Tidak usah takut divaksin. Pemerintah telah memastikan vaksin aman. Orang yang telah divaksin, ilustrasinya seperti orang berkendara yang mengenakan helm. Jika terjadi kecelakaan, risiko untuk terluka lebih kecil dibandingkan mereka yang tidak menggunakan helm. Memang tidak ada jaminan bahwa tidak akan terjadi kecelakaan, karena itu kita tetap harus mematuhi rambu-rambu lalu lintas." Anggota Dewan Kota Jakarta Barat, Arkat Marni Nugraha mengajak masyarakat di daerah Palmerah yang menjadi peserta kegiatan Sinergi Edukasi Obat dan Makanan Bersama Mitra BPOM untuk menyukseskan program vaksinasi pemerintah.

Menegaskan pernyataan Arkat Marni, Wakil Ketua Komisi IX DPR RI, Charles Honoris menyampaikan bahwa peran aktif masyarakat melalui kesadaran untuk divaksin, akan mendukung percepatan penanganan pandemi di Indonesia. "Vaksinasi dapat mengurangi tingkat keparahan jika terkena COVID-19. Data Kementerian Kesehatan menunjukkan bahwa 95% pasien COVID-19 yang meninggal adalah mereka yang belum divaksin," tutur Charles Honoris. "Saat ini memang banyak beredar informasi tidak benar atau hoaks tentang vaksin, salah satunya vaksin itu berbahaya. Namun yakinlah, vaksin yang digunakan di Indonesia telah melalui serangkaian uji klinik, sehingga aman untuk digunakan," Charles Honoris melanjutkan.

 

Kegiatan Sinergi Edukasi Obat dan Makanan Bersama Mitra BPOM ini kembali dilaksanakan Biro Hukum dan Organisasi bekerja sama dengan Komisi IX DPR RI, Jumat (15/10). Hari ini, giliran masyarakat sekitar Palmerah yang diajak untuk menjadi konsumen cerdas dalam memilih produk Obat dan Makanan yang aman. Kepala Balai Besar POM (BBPOM) di Jakarta yang hadir juga menyampaikan ajakan kepada peserta agar membiasakan diri memilih, membeli dan mengonsumsi Obat dan Makanan dengan KLIK. "Sudah tahu kepanjangan KLIK kan? Kemasan, Label, Izin edar, dan Kedaluwarsa. Jadi, jangan membeli produk Obat dan Makanan yang kemasannya penyok dan rusak, dan/atau produk tanpa izin edar BPOM," ujarnya.

 

Yayan Cahyani dari BBPOM di Jakarta juga menyampaikan bahwa selaku konsumen, masyarakat harus mengetahui bahwa pangan yang akan dikonsumsi aman dan layak. "Aman berarti bebas dari cemaran biologis, cemaran kimia, dan cemaran fisik. Salah satu cemaran kimia adalah formalin, zat yang digunakan untuk mengawetkan mayat. Masih ada beberapa pedagang yang menggunakan mie berformalin, dengan alasan pembeli menyukainya. Karena itu, kita harus mengetahui ciri-ciri makanan yang mengandung bahan berbahaya agar terhindar dari risiko kesehatan yang ditimbulkan bahan berbahaya tersebut," jelasnya. Selain formalin, bahan berbahaya lainnya yang sering ditemukan dicampurkan dalam makanan adalah boraks, rhodamin B, dan methanyl yellow. "Upaya untuk menghentikan penggunaan/pencampuran bahan berbahaya dalam makanan, memerlukan kesadaran masyarakat untuk tidak mengonsumsi makanan mengandung bahan berbahaya tersebut. Jika masyarakat menolak makanan berbahaya, diharapkan penjual tidak akan lagi menjajakan makanan berbahaya," ungkap Yayan Cahyani lebih lanjut.

Peserta kegiatan juga diajak untuk mengecek izin edar produk Obat dan Makanan secara mandiri menggunakan aplikasi BPOM Mobile. Peserta diminta untuk mengunduh aplikasi BPOM Mobile dan melakukan pengecekan melalui scan barcode untuk produk yang memiliki QR Code dan atau menginput nomor izin edar/merek yang tertera di label kemasan produk. Peserta tampak antusias mencoba aplikasi BPOM Mobile dan berhasil mengetahui bahwa produk yang mereka cek telah terdaftar di BPOM. Setelah kegiatan ini para peserta diharapkan lebih mampu memilih produk Obat dan Makanan yang akan mereka konsumsi sehingga dapat terhindar dari Obat dan Makanan yang merugikan kesehatan.

 

 

 
Bagikan
Whatsapp