Badan POM Ajak Masyarakat Tidak Jadi Korban Promosi/Iklan


02 Nov 2021 28

INTIPS Podcast yang dipandu oleh Ario Astungkoro mampu menjaring 480 peserta dari perwakilan pelaku usaha, organisasi masyarakat/profesi, komunitas, akademisi, generasi milenial, dan masyarakat umum. Hadir sebagai narasumber, Deputi Bidang Pengawasan Obat Tradisional, Suplemen Kesehatan dan Kosmetik, Reri Indriani dan Sekretaris Jenderal Persatuan Perusahaan Periklanan Indonesia, Hery Margono.

“Penggunaan OTSK harus tetap disesuaikan dengan kebutuhan, sesuai dosis yang dianjurkan, dan tetap memperhatikan khasiat penggunaannya,” tegas Reri Indriani. “Sebelum mengonsumsi produk OTSK, penting bagi konsumen untuk membaca informasi yang tercantum pada label produk. Manfaatnya konsumen dapat mengetahui informasi produk secara menyeluruh, seperti legalitas produk apakah produk sudah terdaftar, apa saja komposisinya, bagaimana pemakaianya/dosisnya, klaim khasiatnya, peringatan perhatian/kontra indikasi/efek samping (bila ada) dan tanggal kedaluwarsanya,” jelasnya.

Reri mengungkapkan, sepanjang tahun 2018 hingga triwulan III tahun 2021, Badan POM menemukan rata-rata 27,14 persen klaim pada label SK dan 30,25 persen klaim pada label OT yang Tidak Memenuhi Ketentuan (TMK). Sedangkan jumlah rata-rata iklan OT TMK mencapai 56,30 persen dan 37,14 persen iklan SK TMK. Persentase pelanggaran iklan yang tinggi pada OT dikarenakan sebagian besar pelaku usaha OT adalah UMKM yang belum banyak memahami regulasi periklanan.

“Mati satu tumbuh seribu, slogan tersebut cocok menggambarkan iklan ilegal dan iklan yang TMK terutama ditemukan pada media online seperti pada e-commerce, game, aplikasi, dan media sosial,” ujar Hery Margono. Menurut Hery, iklan dapat membangun presepsi masyarakat, jika presepsi dibangun tidak berdasarkan fakta maka akan menyesatkan. Peningkatan jumlah iklan yang melanggar justru akan merugikan pelaku usaha karena masyarakat menjadi tidak percaya lagi dengan klaim dalam iklan tersebut. Jadi, iklan harus dibuat dengan jujur, berdasarkan fakta, bertanggung jawab, dan memiliki prinsip bersaing secara sehat.

Setiap pelanggaran ketentuan label atau iklan OTSK ditindaklanjuti Badan POM sesuai peraturan Badan POM Nomor 19 Tahun 2021 tentang Pedoman Tindak Lanjut Hasil Pengawasan Obat Tradisional, Obat Kuasi, Suplemen Kesehatan, dan Kosmetika. Tindak lanjut diutamakan berupa pembinaan teknis kepada pelaku usaha dalam bentuk klarifikasi/audiensi dan melakukan supervisi. Namun, jika pelanggaran berat maka pemberian tindakan administratif seperti penghentian penayangan iklan, penarikan iklan, serta peringatan akan dilakukan.

Masyarakat juga dapat berperan aktif dalam pengawasan dengan selalu kritis atas informasi pada label dan iklan. Jangan lagi menjadi korban promosi/iklan yang bombastis dan klaim yang tidak sesuai pada label OTSK. Jangan sharing informasi produk sebelum memastikan kebenarannya, terutama bagi endorser atau influencer. Masyarakat dapat mencari informasi produk Obat dan Makanan melalui BPOM Mobile atau menghubungi HALOBPOM 1500533 untuk mencari informasi lebih lanjut.

Tips untuk menjadi konsumen cerdas agar tidak mudah tergiur atau menjadi korban iklan produk Obat dan Makanan, pertama, beli produk sesuai kebutuhan, sehingga tidak mudah tergiur promosi/iklan produk yang tidak dibutuhkan. Kedua, hati-hati terhadap iklan yang mengklaim cespleng, efek instan, ampuh dan sejenisnya karena tidak dapat terjamin keamanan produknya. Ketiga, perhatikan label produk dengan seksama. Keempat, jika tertarik dengan promosi di e-commerce, sebelum membeli cek terlebih dahulu reputasi penjual online, review pembeli dan harga produk, dan kelima, selalu pastikan Cek KLIK (Kemasan, Label, Izin Edar dan Kedaluwarsa).

(PM-Fat & Yanti, vika)

 

 

Bagikan
Whatsapp